RSS
Container Icon

Ketika Hati sedang Galau “Jodoh”


"Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur : 26)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat : 49)


Percayalah Allah telah memiliki sebuah nama untuk menjadi pasangan kita. Tapi apakah kita hanya meminta saja untuk mendapatkan jodoh seperti kriteria kita?? Lebih baik kita selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan karena orang yang kita cintai tapi karena Allah. Berubah karena orang yang kita cintai seperti memakai topeng sepanjang hidup, tapi berubah karena Allah membuat kita merasa lebih nyaman karena kita menjadi diri sendiri.

Setiap orang memiliki prinsip “mencari” jodoh sendiri-sendiri. Ada yang pake metode gonta-ganti pacar, ada yang Cuma TTM-an atau pacaran tapi gak suka ganti-ganti. Buat aku, apapun metodenya yang tak masalah, lebih baik kita menghormati prinsip orang lain daripada ngotot menjelek-jelekkan, bikin capek hati.

Aku punya 2 kakak perempuan yang sudah berkeluarga semua. Namun, langkah mereka menuju ke pernikahan berbeda. Kakakku yang pertama punya prinsip tidak pacaran, 2 bulan kenal langsung nikah (ini dicomblangin). Sedangkan kakakku yang kedua pacaran 3 tahun baru nikah. Hasilnya beda sumpah.

Aku cerita dulu kakakku yang pertama. Awal pernikahan, mereka lucu banget, malu-malu gitu. Seperti orang yang baru pacaran. Kakak iparku juga baik banget sama aku, gak berubah setelah 4 tahun pernikahan. Keluarganya juga alhamdulillah tak pernah ada masalah yang berarti, lancar-lancar gitu.
Tapi, sedikit berbeda dengan kakakku kedua. Dulu, pas pacaran mereka mesra gitu. Kakak iparku juga baik banget sama aku, mungkin untuk meraih hatiku kaleee, secara aku deket dengan kakak keduaku. Tapi, setelah menikah ada yang berubah diantara mereka. Tak semesra dulu lagi. Kata temenku sih, mesranya mereka ketika pacaran, dan mulai bosan ketika sudah punya anak..

Berkaca dari mereka, aku pun mulai memilih. Dan kuputuskan untuk mengikuti jejak kakakk yang pertama, “tidak pacaran”. Alhamdulillah, di saat usiaku menjelang ke-22 masih tetap bepegang teguh pada prinsip itu. Namun jujur, hati pun goyah ketika aku mulai tertarik dengan makhluk bernama laki-laki. Bertambah keraguan ketika kami mulai dekat hingga pernah mucul perasaan ingin membuang prinsip itu. Tapi sepertinya Allah selalu berkata lain, Allah tak mengijinkanku membuang prinsip itu.

Laki-laki yang kusuka pertama kali adalah teman SMP-ku. Bisa kukatakan itu adalah cinta monyet, meskipun membuatku menangis lama. Waktulah yang membantuku melupakannya.

Laki-laki kedua adalah kakak tingkat kuliah. Laki-laki ini sangat telaten mencuri hatiku, hingga membuat tembok pertahananku runtuh. Allah pun tak mengijinkan, hingga membuatku menangis selama dua tahun.

Laki-laki ketiga muncul. Tapi mulai kusadari ada rasa yang sangat indah sekitar setahun lalu.

Seolah-olah, Allah memberiku jawaban. Mimpi laki-laki itu setelah shalat istikharah pun datang, hingga hati ini yakin bahwa dia adalah pelabuhan terakhirku. Aku pun diajak bertemu keluarganya (padahal aku gak tahu rencana itu, jadinya ya gugup total deh). Namun, mengapa setelah aku bertemu keluarganya sikapnya jadi berubah??? Sedih L

Setelah berpikir lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........

Apakah hanya aku yang memiliki prinsip seperti itu?? Aku rasa tidak, sepertinya dia memiliki prinsip yang sama. Mengenalkanku pada keluarga sebelum ada ikatan, mungkin untuk meyakinkannya apakah menurut keluarganya aku adalah pendamping yang baik. Sikapnya yang berubah setelah itu mungkin karena dia ingin menjaga hatinya karena belum siap melamarku. Dia tidak berani jujur, tapi dia percaya padaku bahwa aku mampu menantinya.

Yang kucari adalah calon suami, bukan calon pacar. Jadi wajar jika di usia yang semuda ini kami menjaga jarak. Mengatakan padaku bahwa dia suka dan memintaku menantinya sama saja seperti pacaran. Selama waktu penantian ini adalah waktu yang tepat untuk merubah diri menjadi sosok yang lebih baik tentunya karena Allah. Karena Allah lah yang akan mengizinkan kami bertemu lagi di saat yang tepat. Untuk itu, aku pun harus memperkuat “panjagaan” hatiku. Hatiku hanya satu dan hanya akan kuberikan pada seseorang yang Allah pilihkan untukku. Jika dia memang bukan yang terbaik bagiku, tak usahlah bersedih. Tak baik memaksakan sebuah nama untuk menjadi jodoh kita, lebih baik meminta yang terbaik. Dan ingatlah, bahwa Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita minta.


“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)


“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment